Perencanaan dan Pengendalian Produksi




                 Perencanaan Produksi Agregat


         Perencanaan produksi adalah pernyataan rencana produksi dalam bentuk agregat. Perencanaan produksi merupakan alat komunikasi antara top manajemen dan manufaktur. Selain itu, perencanaan produksi merupakan pegangan untuk merancang jadwal induk produksi.
Tujuan perencanaan produksi adalah:
  • Sebagai langkah awal untuk menentukan aktifitas produksi
  • Sebagai masukan perencanaan sumber daya pendukung perencanaan produksi
  • Meredam produksi dan tenaga kerja terhadap fluktuasi permintaan.
         Agar top manajemen dapat memfokuskan seluruh tingkat produksi maka perencanaan produksi dinyatakan dalam kelompok produk atau family (agregate). Satuan unit yang dipakai dalam perencanaan produksi harus dikonversi dalam bentuk rupiah untuk menterjemahkan perencanaan produksi ke jadwal induk produksi.
Strategi Perencanaan Produksi Agregat
           Aggregate Planning adalah penentuan kuantitas dan waktu produksi dalam angka waktu menengah (biasanya antara 3 sampai 18 bulan). Manajer operasi mencoba untuk menentukan cara terbaik untuk memenuhi ramalan permintaan melalui penyesuaian tingkat produksi, jumlah buruh, jumlah persediaan, kerja lembur, ketentuan subkontrak, dan berbagai variabel lain yang bisa dikendalikan. Tujuan dari proses ini adalah meminimumkan biaya dalam periode perencanaan, tetapi bisa juga isu-isu strategis lain yang lebih penting dari minimasi biaya.
Ada beberapa pilihan strategi yang bisa dilakukan manajer operasi, yaitu: capacity options dan demand options.
Capacity options adalah pilihan strategi tanpa berusaha untuk merubah demand. Demand options adalah pilihan strategi dengan mencoba memperhalus fluktuasi permintaan.
a. Capacity Options (Ada lima pilihan strategi, yaitu )
  1. Merubah tingkat persediaan sesuai dengan perilaku permintaan (changing inventory level). Pada strategi ini, produksi ditentukan konstan. Manajer dapat meningkatkan persediaan pada periode di mana permintaan rendah untuk mengantisipasi permintaan yang tinggi pada periode yang akan datang. Jika strategi ini yang dipilih, maka biaya yang berkaitan dengan penggudangan, asuransi, pengelolaan, ke-kuno-an (obsolescence) barang, dan modal yang tertanam akan meningkat (biaya-biaya ini sekitar 15% – 40% dari nilai sebuah item persediaan). Pada sisi lain, pada saat memasuki periode dengan permintaan yang meningkat, ada kemungkinan terjadi kelangkaan persediaan, sehingga dapat menurunkan pelayanan kepada konsumen dan perusahaan mengalami kehilangan peluang penjualan.
  2. Merubah jumlah tenaga kerja, melalui layoff dan hiring (varying workforce size by hiring and layoffs). Ini adalah strategi dengan mengurangi atau menambah tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan produksi. Tenaga kerja baru perlu dilatih, sehingga pada beberapa saat akan menurunkan rata-rata produktivitas. Penghentian tenaga kerja sementara (layoff) dapat menurunkan semangat kerja dan berakibat dengan menurunnya produktivitas kerja.
  3. Merubah tingkat produksi melalui jam lembur (over time) atau jam menganggur (iddle time) (varying production rates through over time or idle time). Hal ini kadang-kadang dilakukan dengan menetapkan jumlah tenaga kerja yang konstan, tetapi merubah-rubah jam kerja per harinya. Pada saat permintaan berubah dengan jumlah yang cukup besar, tetap saja ada batas jam lembur yang realistik. Upah lembur lebih tinggi, kalau sering dilakukan, akan timbul kecenderungan tenaga kerja untuk bekerja pada jam lembur dengan menurunkan produktivitasnya pada jam reguler. Jam lembur juga meningkatkan biaya overhead dengan penggunaan fasilitas pabrik lebih lama. Pada sisi lain, pada periode di mana permintaan rendah, perusahaan harus menerima jam menganggur tenaga kerja, ini sesuatu hal yang sulit diterima akal.
  4. Subkontrak (subcontracting). Pada periode di mana permintaan berada pada posisi puncak, perusahaan dapat juga menerapkan strategi subkontrak pada perusahaan lain. Subkontrak memiliki resiko, yaitu: costly, membuka pintu bagi pelanggan perusahaan ke perusahaan pesaing, dan biasanya sulit mencari subkontraktor yang baik.
  5.  Menggunakan tenaga kerja paruh waktu (using part-time workers). Khususnya pada perusahaan jasa, tenaga kerja paruh waktu dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tenaga kerja yang unskilled.
Keunggulan strategi pertama :
  • Meminimumkan upaya penjadwalan produksi,
  • Meminimumkan penambahan tenaga kerja baru (tidak ada kerja lembur),
  • Menyederhanakan sistim pesanan untuk bahan baku karena produksi yang konstan.
       Kelemahan strategi pertama :
  • Ada kemungkinan penurunan tingkat pelayanan pada saat ada permintaan yang mendadak meningkat,
  • Ada kemungkinan jumlah persediaan yang berlebih jika terjadi penurunan permintaan dalam jangka waktu yang cukup panjang,
  • Dibutuhkan sistim back order (yang dapat merepresentasikan adanya penurunan pelayanan kepada konsumen) atau dibutuhkan subkontrak jika permintaan berbeda dengan tingkat produksi,
  • Adanya kebutuhan suplai barang jadi yang ekstensif dan berbiaya tinggi.
Strategi ini biasanya digunakan perusahaan yang bekerja pada tingkat kapasitas produksi penuh.
 Keunggulan strategi kedua :
  • Meminimumkan kemungkinan subkontrak,
  • Meminimumkan persediaan barang jadi,
  • Meningkatkan pelayanan karena perusahaan lebih responsif terhadap permintaan pasar.
Kelemahannya strategi kedua :
  • Meningkatkan upaya penjadwalan produksi dan persediaan karena permintaan yang berfluktuasi,
  • Meningkatkan upaya penjadwalan dan perekrutan tenaga kerja,
  • Semangat kerja tenaga kerja yang rendah karena adanya ketidakpastian.
Strategi ini biasanya digunakan di mana investasi dalam persediaan barang jadi jauh leih besar daripada biaya lay off.
Keunggulan Strategi Ketiga
  • Biasanya lebih mudah untuk melakukan perubahan tingkat produksi daripada perubahan dalam jumlah tenaga kerja atyau tingkat persediaan karena perubahan-perubahan ini biasanya dilakukan pada tingkat manajemen sebagai kebijakan,
  • Meminimumkan biaya persediaan barang jadi,
  • Meminimumkan biaya rekrutmen tenaga kerja baru dan penjadwalan.
Kelemahannya Strategi Ketiga:
  • Meningkatkan upaya penjadwalan produksi dan persediaan karena permintaan yang berfluktuasi,
  • Penggunaan tenaga kerja yang tidak efisien pada saat permintaan pasar menurun dan tingkat produksi ditentukan di bawah kapasitas,
  • Adanya kecenderungan untuk menimbulkan semangat tenaga kerja yang buruk karena ada ketidak pastian kerja (kadang-kadang buruh bekerja dengan sibuk, di saat lain sama sekali tidak bekerja).
Strategi ini biasanya digunakan dalam industri dengan biaya modal pada investasi persediaan barang jadi menempati porsi yang utama, dan perusahaan bermaksud menekan tingkat persediaan pada jumlah yang sedikit.
 b. Demand options.
Pilihan strategi yang terkatagori sebagai demand options adalah :
  1. Mempengaruhi permintaan (influecing demand). Pada saat permintaan rendah, perusahaan dapat berusaha untuk meningkatkannya melalui advertensi, promosi, menambah jumlah tenaga penjualan, atau memberikan potongan harga. Perusahaan penerbangan dan hotel memberikan potongan harga pada saat liburan. Perusahaan telekomunikasi memberikan tarif pulsa yang lebih rendah pada malam hari.
  2.  Melakukan back order selama periode di mana permintaan tinggi (back ordering during high demand periods). Back order adalah pemesanan barang atau jasa yang diterima perusahaan, tetapi perusahaan tidak memenuhi pada saat itu. Jika konsumen mau menunggu, maka back order merupakan strategi yang sesuai. Pada dealer mobil hal ini sangat mungkin dilakukan.
  3.  Memproduksi produk-produk yang sesuai untuk musim-musim yang berbeda (counterseasonal product mixing). Perusahaan memproduk berbagai produk untuk musim-musim yang berlainan, contoh : mesin pemotong rumput dan mesin pembersih salju.
Pilihan strategi yang paling banyak digunakan adalah : produksi dengan jam reguler, jam lembur dan subkontrak. Menggabungkan kedua pilihan strategi tersebut (capacity options dan demand options) kadang-kadang merupakan pilihan yang harus dilakukan, dan biasanya menghasilkan pencapaian yang lebih baik.



Material requirements planning



Material requirements planning (MRP) is a production planning and inventory control system used to
manage manufacturing processes. Most MRP systems are software-based, while it is possible to conduct MRP
by hand as well.
An MRP system is intended to simultaneously meet three objectives:
  • Ensure materials are available for production and products are available for delivery to customers.
  • Maintain the lowest possible material and product levels in store
  • Plan manufacturing activities, delivery schedules and purchasing activities.

Penjadwalan Produksi

Definisi
Penjadwalan merupakan pengaturan waktu dari suatu kegiatan operasi. Penjadwalan mencakup kegiatan mengalokasikan fasilitas, peralatan ataupun tenaga kerja bagi suatu kegiatan operasi dan menentukan urutan pelaksanaan kegiatan operasi. Dalam hierarki pengambilan keputusan, penjadwalan merupakan langkah terakhir sebelum dimulainya operasi. Tujuan penjadwalan untuk meminimalkan waktu proses, waktu tunggu langganan, dan tingkat persediaan, serta penggunaan yang efisien dari fasilitas, tenaga kerja, dan peralatan.

Penjadwalan didefinisikan sebagai pengaturan waktu dari suatu kegiatan yang mencakup kegiatan mengalokasikan fasilitas, peralatan atau tenaga kerja bagi suatu kegiatan operasi dan menentukan urutan pelaksanaan kegiatan operasi. Penjawalan juga dapat diartikan sebagai proses pengalokasian sumber-sumber guna melaksanakan sekumpulan tugas dalam jangka waktu tertentu.

Berbagai teknik dapat diterapkan untuk penjadwalan. Teknik yang digunakan tergantung dari volume produksi, variasi produk, keadaan operasi, dan kompleksitas dari pekerjaan sendiri dan pengendalian yang diperlukan selama proses. Beberapa teknik yang sering digunakan antara lain Gantt Chart, metode penugasan dan metode Johnson.

Kebanyakan perusahaan menyelesaikan pekerjaan secara bersamaan, karena itu perlu menggabungkan beberapa jadwal kerja. Penggabungan ini dimungkinkan apabila tanggal penyerahan atau selesai untuk setiap pekerjaan dapat diketahui dan seluruh penggabungan tersebut akan dilaksanakan oleh setiap bagian proses sepanjang periode yang direncanakan. Proses penggabungan ini disebut Penjadwalan ( scheduling ) dan hasilnya secara sederhana disebut jadwal ( schedule ) atau jadwal produksi ( production schedule ) secara keseluruhan. Salah satu kunci keberhasilan dalam meningkatkan efisiensi dalam unit operasi adalah kemampuan untuk menyusun jadwal secara efektif.
Namun dalam menyusun jadwal secara efektif terdapat beberapa kesulitan, yaitu :
1.kesulitan dalam mengidentifikasi tujuan dari jadwal yang sedang dilaksanakan
2.jumlah yang sangat besar dari jadwal yang mungkin



PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU

Pengertian Pengendalian Persediaan Bahan Baku
Pengendalian bahan baku yang diselenggarakan dalam suatu perusahaan, tentunya diusahakan untuk dapat menunjang kegiatan kegiatan yang ada dalam perusahaan yang bersangkutan. Ketarpaduan dari seluruh pelaksanaan kegiatan yang ada dalam perusahaan akan menunjang terciptanya sistem pengendalian bahan baku yang baik dalam suatu perusahaan.
Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting bagi perusahaan, karena persediaan fisik pada perusahaan akan melibatkan investasi yang sangat besar pada pos aktiva lancar. Pelaksanaan fungsi ini akan berhubungan dengan seluruh bagian yang bertujuan agar usaha penjualan dapat intensif serta produksi dan penggunaan sumber daya dapat maksimal. Istilah pengendalian merupakan penggabungan dari dua pengertian yang sangat erat hubungannya tetapi dari masing-masing pengertian tersebut dapat diartikan sendiri sendiri yaitu perencanaan dan pengawasan. Dua pengertian tersebut saling melengkapi satu sama lain. Pengawasan tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu tidak ada artinya, demikian pula perencanaan tidak menghasilkan sesuatu tanpa adanya pengawasan.
Perencanaan kebutuhan bahan adalah suatu sistem perencanaan yang pertama tama berfokus pada jumlah dan saat barang jadi yang diminta dan kemudian menentukan permintan turunan untuk bahan baku, komponen dan sub perakitan pada setiap tahapan produksi terdahulu. (Horngren, 1992). Sedangkan menurut Widjaja (1996), perencanaan adalah proses untuk memutuskan tindakan apa yang akan diambil di masa yang akan datang. Pengawasan bahan adalah suatu fungsi terkoordinasi di dalam organisasi yang terus menerus disempurnakan untuk meletakkan pertanggungjawaban atas pengelolaan bahan dan persediaan pada umumnya, serta menyelenggarakan suatu pengendalian internal yang menjamin adanya dokumen dasar pembukuan yang mendukung sahnya suatu transaksi yang berhubungan dengan bahan, pengawasan bahan meliputi pengawasan fisik dan pengawasan nilai atau rupiah bahan ( Supriyono, 1999). Kegiatan pengawasan persediaan tidak terbatas pada penentuan atas tingkat dan komposisi persediaan, tetapi juga termasuk pengaturan dan pengawasan atau pelaksanaan pengadaan bahan bahan yang diperlukan sesuai dengan jumlah dan waktu yang dibutuhkan serta dengan biaya yang serendah rendahnya.


 PERAMALAN PERMINTAAN


Pengertian Peramalan
forecastingPeramalan adalah proses untuk memperkirakan berapa kebutuhan di masa datang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang ataupun jasa. Salah satu jenis peramalan adalah peramalan permintaan. Peramalan permintaan merupakan tingkat permintaan produk – produk yang diharapkan akan terealisasi untuk jangka waktu tertentu pada masa yang akan datang [Nasu05].
Untuk menjamin efektivitas dan efisiensi dari sistem peramalan permintaan, terdapat Sembilan langkah yang harus diperhatikan yaitu [Yami05]:
  1. Menentukan tujuan dari peramalan
  2. Memilih item independent demand yang diramalkan
  3. Menentukan horizon waktu dari peramalan
  4. Memilih model – model peramalan
  5. Memperoleh data yang dibutuhkan untuk melakukan peramalan
  6. Validasi model peramalan
  7. Membuat peramalan
  8. Implementasi hasil – hasil peramalan
  9. Memantau keandalan hasil peramalan

Fungsi Peramalan
Dalam fungsi peramalan tidak hanya termasuk di dalamnya teknik khusus dan model, tetapi juga termasuk input dan output dari subyek peramalan .
Pengembangan fungsi peramalan dibutuhkan untuk mengidentifikasi output, karena spesifikasi output dapat menyederhanakan pemilihan model peramalan, tetapi fungsi permalan tidaklah lengkap tanpa mempertimbangkan input.
Peramalan biasanya meliputi beberapa pertimbangan berikut ini [Yami05]:
  1. Item yang diramalkan
  2. Peramalan dari atas (top-down) atau dari bawah (buttom-up)
  3. Teknik peramalan (model kuantitatif atau kualitatif)
  4. Satuan yang digunakan
  5. Interval/horison waktu
  6. Komponen peramalan
  7. Ketepatan peramalan
  8. Pengecualian dan situasi khusus
  9. Perbaikan parameter model peramalan.



    
Download here download

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar